Minggu, 26 Maret 2017

Perekayasaan Pelaporan Keuangan....



Assalamu'alaikum Wr Wb..

Minna.... Ko..ni..chi..wa...!!👋👋

Hehehe.. Nongol lagi nih saya nya..!!😄 Eits.. Jangan bosen dulu ya buat main kesini..! Coz, for this post nih... Mimin mau ngejelasin lagi tentang teori akuntansi yang udah mimin jabarkan lumayan panjang kali lebar di post-post sebelumnya.😲 Dan sekarang bisa dibaca donk judul diatas..?? Yups... post kali ini bakal mimin isi tentang Perekayasaan Pelaporan Keuangan. 

Just for info.. di buku Teori Akuntansi ini, akuntansi didefinisikan sebagai teknologi sehingga teori akuntansi disini dimaknai sama dengan penalaran logis. Dan dengan itu, penulis buku ini mendefinisikan akuntansi sebagai seperangkat pengetahuan yang mempelajari perekayasaan penyediaan jasa secara nasional berupa informasi keuangan kuantitatif dan cara penyampaian informasi tersebut kepada pihak yang berkepentingan guna pengambilan keputusan ekonomik. Nah pengetahuan perekayasaan inilah yang nantinya mewujudkan dirinya dalam bentuk mekansme pelaporan keuangan.

Selain itu, dalam definisi diatas disebutkan tentang keputusan ekonomik. Adapun keputusan ekonomik negara adalah alokasi sumber daya ekonomik secara efektif dan efisien untuk mencapai kemukmuran masyarakat yang optimal. Dan untuk itulah pelaporan keuangan nasional harus direkayasa agar tercipta adanya pengendalian SD secara automatis. Dalam pelaporan keuangan itu sendiri, pengendalian semacam itu dicapai dengan penetapan sebuah pedoman yang disebut dengan PABU (prinsip akuntansi berterima umum). 

PROSES PEREKAYASAAN

Sebelumnya.. pelaporan keuangan merupakan struktur dan proses akuntansi yang digambarkan didalamnya, bagaimana informasi keuangan disediakan dan dilaporkan agar dapat mencapai tujuan ekonomi dan sosial negara.
Struktur yang dimaksud diatas adalah unsur-unsur yang terlibat dan terpengaruh dalam penentuan informasi keuangan. Adapun unsur-unsur tersebut meliputi pihak yang terlibat seperti penyusun standar profesi, pemerintah, manajer, akuntan publik, dan lain sebagainya, dan juga sarana yang membentuk struktur akuntansi seperti peraturan pemerintah, standar akuntansi, laporan keuangan, dan juga konvensi pelaporan.
Sedangkan proses yang dimaksud adalah bagaimana pihak-pihak dan sarana-sarana pelaporan bekerja dan saling berinteraksi yang lalu menghasilkan informasi keuangan diwujudkan dengan laporan/statemen keuangan.






Gambar diatas menggambarkan proses perekayasaan pelaporan keuangan. Adapun tujuan ekonomik dan sosial negara berada di atas dan dijabarkan dalam tujuan pelaporan keuangan, agar tujuan akuntansi secara sendirinya akan membantu tercapainya tujuan negara.  Sedangkan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kotak ketiga merupakan pertanyaan perekayasaan, yang mana jawabannya akan berguna untuk pemilihan dan pertimbangan gagasan.

Dan adapun proses perekayasaan ini merupakan proses untuk menjawab pertanyaan mendasar tentang bagaimana suatu kegiatan operasional disimbolkan dalam bentuk statemen keuangan. Sehingga orang yang dituju dapat membayangkan proses operasi perusahaan atau organisasi secara finansial tanpa harus melihatnya langsung dalam bentuk fisis.

Proses perekayasaan bukanlah sesuatu yang dikerjakan peroangan, akan tetapi merupakan upaya tim yang membutuhkan kedisiplinan intelektual dan kekuatan politik, karena perekayasaan ini merupakan suatu proses yang serius dan hasilnya akan berdampak panjang dan luas. Dan karena itu, idealnya, suatu badan legislatif akan membentuk sebuah tim dibawah kendalinya untuk melakukan perekayasaan di tingkat nasional.

Proses perekayasaan ini juga termasuk dalam proses semantik. Masih ingat kan apa itu semantik? Yups.. proses semantik merupakan proses menyimbolkan, yang dalam hal ini menyimbolkan obyek fisis dari perusahaan atau organisasi dalam statemen keuangan. Model yang sekarang dikenal adalah penyimbolan dengan sepuluh elemen (panel B), yaitu: aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan, biaya, untung, rugi, investasi pemilik, distribusi ke pemilik, dan laba komprehensif.

Nah.. untuk menadapatkan hasil berkualtas tinggi, maka proses perekayasaan ini harus dilakukan secara saksama. Dan berikut ini merupakan proses saksama yang dilakukan FASB dalam menysusn sebuah pernyataan resmi:


  1. Mengevaluasi masalah 
  2. Mengadakan riset dan analisis
  3. Menyusun dan mendistribusikan memorandum diskusi pada tiap pihak berkepentingan 
  4. Mengadakan public hearing akan masalah yang disampaikan dalam memorandum diskusi 
  5.  Menganalisis dan mempertimbangkan tanggapan publik 
  6.  Menerbitkan draf awal standar (ED) 
  7. Menganalisis dan mempertimbangkan tanggapan akan ED 
  8. Memutuskan penerbitan stitem statemen 
  9. Menerbitkan statemen yang bersangkutan

 KONSEP INFORMASI AKUNTANSI


Tidak setiap angka yang ada merupakam informasi. Angka yang tidak memilki makna atau nilai bagi pembacanya tidak dapat dikatakan informasi. Lalu, nilai seperti apa yang harus dimilki? Ya.. nilai informasi yang dimaksudkan disini merupakan kemampuan meningkatkan pengetahuan dan keyakinan pemakainya dalam mengambil keputusan.

Statemen keuangan dapat diibaratkan seperti sebuah kalimat, yaitu berisi elemen-elemen yang tidak dapat dipahamni maksudnya kecuali bila bentuk, isi, dan susunannya telah sesuai dengan pedoman tertentu. Dalam akuntansi pedoman yang digunakan adalah PABU.

RERANGKA KONSEPTUAL

Masih ingat yang dibahas diatas tadi? Diatas, di bagian proses perekayasaan, ada yang disebut dengan pertanyaan perekayasaan bukan?... Nah, jawaban atas pertanyaan tadi akan menjadi gagasan. Dan gagasan-gagasan ini akan dijadikan konsep-konsep terpilih yang lalu akan dituang dalam sebuah dokumen resmi yang disebut dengan rerangka konseptual.

Adanya rerangka konseptual bertujuan untuk melindungi dari politisasi untuk kepentingan pihak yang tidak semestinya yang akan berdampak dikorbankannya kepentingan umum. Adapun bila terjadi politsasi, maka politisasi harus diartikan bahwa akuntansi sengaja diarahkan untuk mencapai tujuan negara.

Rerangka konseptual tidak hanya ada dalam satu model. akan tetapi salah satu model yang paling terkenal adalah model rerangka konseptual yang dikembangkan oleh FASB yang memuat empat komponen penting, yaitu:


  1. Tujuan pelaporan keuangan 
  2. Kriteria kualitas informasi 
  3. Elemen-elemen statemen keuangan 
  4. Pengukuran dan pengakuan


 Empat komponen diatas lalu dituangkan dalam beberapa dokumen resmi yang disebut SFAC atau Statement of Financial Accounting Concept. Dan.. Selain model yang dikembangkan oleh FASB, ada juga rerangka konseptual yang dikembangkan oleh IASC yang komponennya mirip dengan komponen versi FASB.

PRINSIP AKUNTANSI BERTERIMA UMUM

Perlu diketahui bahwa rerangka konseptual yang berfungsi semcam konstitusi hanya memuat konsep umum saja, yang kemudian dinggap sebagai konstitusi akuntansi di suatu negara. Dan karena itu lah konstitusi tersebut harus dijabarkan dalam bentuk ketentuan atau pedoman operasional agar dapat berpengaruh secara langsung terhadap praktik dan perilaku.

Pedoman ini dapat berasal dari standar akuntansi yang ditetapkan resmi oleh pemerintah atau dapat juga diambil dari pedoman-pedoman yang baik dan banyak dipraktikan. Kedua pedoman tersebut secara keseluruhan membentuk suatu rerangka pedoman operasional yang disebut generally accepted accounting principles (GAAP) atau prinsip akuntansi berterima umum (PABU).

 Mengapa kriteria kewajiban penyajian statemen keuangan adalah PABU dan bukan SAK?


  1.  Karena tidak semua ketentuan perlakuan akuntansi dapat dituangkan dalam bentuk standar akuntansi 
  2. Bila SAK dijadikan kriteria dan dinyatakan dalam laporan auditor, dikhawatirkan akan kewajaran hanya bersifat formal dan tidak substansif 
  3. Untuk mendapatkan kualitas tinggi, ukuran kewajaran harus berupa rerangka pedoman yang komprehensif dan meliputi aspek teknis dan konseptual


Catatan yang harus digaris bawahi disini adalah perbedaan antara tiga istilah penting. Yang pertama prinsip akuntansi  yang dimaknai sebagai segala gagasan, konsep, kaidah, prosedur, atau teknik akuntansi yang tersedia dan berfungsi sebagai pengetahuan. Lalu ada istilah standar akuntansi yaitu konsep, prinsip, metode, teknik yang sengaja dipilih atas dasar rerangka konseptual oleh badan penyusun standar untuk diberlakukan dalam lingkungan dan dituangkan dalam bentuk dokumen resmi. Dan yang terakhir adalah PABU yang dimaknai sebagai suatu rerangka pedoman terdiri atas standar akuntansi dan sumber lain yang yuridis, teoritis, dan praktis.

PABU terdapat pada beberapa versi. Diantaranya PABU versi APB yang disebut sebagai pedoman operasional dalam praktik akuntansi. Lalu PABU versi Rubin yang digambarkan dalam suatu bentuk rumah dan merupakan cara menyajikan secara visual pengertian PABU sebagai rerangka pedoman AICPA. Dan ada juga PABU versi SAS No. 69 yang mendeskripsi PABU sebagai dua hirearki pararel, yang mana salah satunya untuk entitas nonkepemerintahan dan satu lainnya untuk entitas kepemerintahan. Dan yang terakhir PABU versi SPAP yang membatasi PABU untuk entitas nonkepemerintahan sehingga ukuran kewajaran untuk entitas kepemerintahan belum jelas.

PABU juga menetapkan pedoman untuk memeperlakukan suatu objek yang harus dilaporkan yang menyangkut hal-hal berikut:


  1. Definisi. Memberi batasan definisi bebrapa elemen statemen keuangan sehingga terhindar dari kesalahan klarifikasi oleh penyusun dan kesalahan interupsi oleh pemakai. 
  2. Pengukuran/penilaian. Penentuan jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada suatu objek dalam transaksi keuangan. 
  3. Pengakuan. Atau pencatatan suatu jumlah dalam sistem akuntansi dan akan mempengaruhi suatu pos dalam laporan keuangan. 
  4. Penyajian atau penetapan cara pelaporan elemen dalam statemen keuangan, dan pengungkapan atau cara pembeberan/pejelasan hal-hal informatif yang penting dan bermanfaat selain yang dinyatakan dalam statemen keuangan utama.


Secara teori, rerangka konseptual seharusnya merupakan fundasi rerangka ke PABU. Akan tetapi dalam beberapa versi PABU, rerangka konseptual malah ditempatkan pada tingkat yang kurang autoritatif. Hal ini dikarenakan rerangka konseptual biasanya disusun setelah banyak standar akuntansi terbit. Selain itu,hal ini juga bertujuan agar publik tidak dapat begitu saja mengganti standar yang tidak sesuai dengan rerangka konseptual.

Bila proses perekayasaan telah selesai dan sudah diaplikasikan, PABU juga telah ditentukan, dan pelaporan keuangan juga telah berlangsung, maka pengertian dan teori akuntansi dapat digambarkan dalam suatu diagram yang disebut struktur akuntansi .

Hal penting yang digambarkan dalam strukutur akuntasi adalah fungsi auditor independen. Auditor independen ini berperan sebagai pengaudit apakan statemen keuangan telah sesuai dengan PABU, yang dalam hal ini ia harus memenuhi suatu standar yang disebt dengan standar pengauditan berterima umum (StaPBU). Dan adapun hasil dari audit tersebut akan dituangkan dalam suatu laporan auditor.

Nah.. cukup segini aja dulu yah...?? Udah berasap kah otaknya..??😅😅😅 Hahaha.. dikira konslet kali ya?😁😁 

And.. itu tadi lah teori akuntansi bab perekayasaan pelaporan keuangan.

Apa?? Kurang panjang????😱😱 
Mau yang lebih panjang bisa dibaca sendiri di bukunya yah...!!😂 

Dan masih seperti yang kemarin-kemarin, materi ini mimin rangkum dari buku Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan Edisi Ketiga yang ditulis Suwarjono, terbitan BPFE Yogyakarta.. Bukan promosi lo ya...😅 Cuma sekedar referensi aja...

Then... For the last... Thanks.. and see u next post..!!😄 👋👋

Wassalamu'alaikum Wr Wb....

Sabtu, 18 Maret 2017

Penalaran / Reasoning....


Ok.. 3,...2,...1,  start...!!!

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Kalo sebelumya penulis udah kasih sedikit tentang teori akuntansi. Nah! Untuk postingan kali ini nih... penulis akan membahas –sedikit lebar- tentang Penalaran atau Reasoning, yang ternyata sangat penting perannya dalam teori akuntansi. Why? Hal ini disebabkan teori akuntansi yang banyak melibatkan penilaian kelayakan dan validitas atas argumen-argumen yang ada. And then, penalaran inilah yang nantinya memberi keyakinan apakah argumen itu ditolak atau diterima. Cus.. untuk mempersingkat tulisan, langsung saja dibahas ‘apa sebenarnya penalaran itu?’

Nah! Penalaran sendiri intinya adalah pemikiran logis dan sitematis yang nantinya akan membentuk, mempertahankan, atau mengubah suatu keyakinan atas suatu pernyataan atau teori. Dari pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa penalaran memiliki 3 unsur yang menstrukturinya, yaitu:

1.       Asersi   
Merupakan penegasan akan sesuatu dan pernyataan bahwa sesuatu itu adalah benar. Dalam suatu argumen, asersi berfungsi sebagai konklusi (inti yang diturunkan dari beberapa asersi) dan premis (pendukung konklusi). Umumnya asersi disajikan dalam bentuk kalimat dan beberapa mengandung pengkuatifikasian (keterangan kuantitas) seperti kata semua, beberapa, atau tidak ada.  Asersi dapat dinyatakan berdasar makna atau berdasarkan struktur.


Contoh 1 (berdasar makna):
·         Manusia adalah makhluk sosial
·         Tidak ada ikan hias yang melahirkan
·         Perusahaan besar akan memilih mode MTKP
Contoh 2 (berdasar struktur):
·         A adalah B
·         Tidak ada satupun A adalah B
·         Beberapa A adalah B


Asersi yang berdasarkan makna dinilai sering menimbulkan salah dalam pengartian karena keterbatasan dalam bahasa maupun karena kesalahan bahasa. Sedangkan apabila asersi dinyatakan berdasarkan struktur, maka asersi akan lebih dinilai dikarenakan strukturnya daripada kebenaran isinya. Sehingga akan dihasilkan asersi yang valid struktural tapi tidak memiliki kandungan empiris.

Asersi ini ternyata juga bisa disajikan dalam bentuk diagram lo..... Hal ini bertujuan untuk memperjelas hubungan antara satu objek dengan objek lainnya. Selain itu diagram juga bertujuan untuk memperjelas asersi yang meragukan maksudnya. Karena memahami arti asersi sangat penting untuk menentukan keyakinan akan kebenaran asersi.


Lebih lanjut lagi, penulis akan bahas tentang jenis-jenis asersi.... Untuk membentuk keyakinan akan kebenarannya, asersi harus didukung dengan adanya bukti atau fakta. Dan bila asersi dikaitkan dengan fakta, maka akan muncul berbagai jenis asersi. Jenis pertama adalah asumsi, yang merupakan asersi yang diyakini benar meski bukti kebenarannya tidak dapat ditunjukkan. Lalu yang kedua ada hipotesis, yang buktinya tidak dapat dimunculkan akan tetapi diyakini dapat diuji kebenarannya. Dan selanjutnya ada yang disebut dengan pernyataan fakta, yang mana bukti kebenarannya sangat kuat bahkan sampai tidak bisa dibantah.

1.       Keyakinan
Yakin... pernah denger dong kata yakin?? Ok.. yakin disini adalah kesediaan menerima bahwa suatu pernyataan/teori/asersi adalah benar. Dan seperti yang udah dibahas tadi, asersi dapat diyakini atau dipercaya dengan adanya bukti yang kuat. So.., keyakinan dapat dikatakan sebagai produk atau hasil dari penalaran.
Keyakinan punya beberapa sifat (properitas) yang harus dipahami. Beberapa sifat keyakinan diantaranya, ada sifat keadabenaran yang bergantung pada isi, dasar pengetahuan, dan sumber asersi. Kedua ada, bukan pendapat yang berarti bahwa keyakinan tidak bisa ditentukan benar salahnya berdasarkan kesukaan atau selera. Next.., sifat bertingkat, yang mana tingkat keyakinan ini ditentukan oleh kualitas dan kuantitas bukti pendukung. Yang keempat ada berbias atau dipengaruhi keinginan dan kepentingan pribadi yang menyampaikan. Trus ada lgi, sifat bermuatan nilai, yang dipengaruhi penting tidaknya keyakinan ini perlu dipegang. Selanjutnya lagi,.. keyakinan juga bersifat berkekuatan (memiliki tingkat kepercayaan) dan veridikal (tingkat kesesuaian dengan realitas). And the last is... adanya sifat berketertempaan yang berhubungan dengan mudah tidaknya kepercayaan ini diubah menjadi bukti yang relevan.

2.       Argumen
Dalam artian positif, argumen bisa disamakan dengan penalaran logis. Argumen biasanya diajukan oleh seseorang sebagai alasan untuk mendukung gagasan atau pandangan. Argumen biasa terdiri dari beberapa asersi yang saling berkaitan dan membentuk simpulan. Argumen terdiri dari premis dan konklusi seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Apabila ditinjau dari bagaimana diterapkannya argumen untuk menurunkan konklusi, maka dapat dikatakan bahwa argumen terbagi dalam berbagai jenis:
·         Argumen deduktif merupakan penyimpulan yang berawal dari pernyataan umum sebagai premis dan menuju ke pernyataan khusus sebagai simpulan atau konklusi. Disebut juga argumen logis, karena konklusinya diturunkan dari premis lain yang diajukan. Untuk lebih jelasnya,  just try to look at this example....:
 




Contoh diatas merupakan contoh argumen deduktif. Sebagai catatan, premis major diartikan sebagai anteseden (yang menunjukkan hubungan) dan premis minor disebut sebagai konsekuen. Dalam suatu argumen, konklusi dikatakan benar bila menegaskan anteseden seperti yang ada di contoh A. Sedangkan konklusi contoh B dikatakan tidak valid karena menegaskan konsekuen bukan anteseden.

Dalam teori akuntansi premis major disebut sebagai postulat. Dan argumen-argumen deduktif dalam akuntansi akan membentuk teori akuntansi. Dan untuk menilai argumen terdapat 4 kriteria evaluasi yang termasuk di dalamnya kelengkapan, kejelasan, keshahihan, dan keterpercayaan.

·         Argumen Induktif berawal dari pernyataan khusus dan berakhir pada pernyataan umum. Berbeda dengan argumen deduktif yang merupakan argumen logis, argumen induktif ini merupakan argumen kebolehjadian. Yang berarti tujuan dari argumen induktif adalah meyakinkan bahwa kebolehjadian konklusi cukup tinggi. Dengan ini juga dapat dinyatakan bahwa kebenaran premis tidak dapat menjamin sepenuhnya kebenaran konklusi. Contoh dari argumen induktif:

Premis                  : Sebuah jeruk dari karung A manis rasanya
Premis                  : Sebuah jeruk berikutnya manis rasanya
Konklusi               : Semua jeruk di karung A manis rasanya

Dalam akuntansi, penalaran induktif digunakan untuk menjelaskan gejala akuntansi tertentu dalam bentuk pernyataan umum. Adapun dalam praktiknya penalaran induktif dan deduktif tidak dapat dilakukan secara terpisah.

·         Argumen dengan Analogi berarti menurunkan konklusi atas adanya kesamaan atau kemiripan karakteristik, pola, fungsi, atau hubungan pada objek yang disebutkan suatu asersi. Argumen macam ini disebut-sebut memiliki banyak kelemahan. Karena sering kali perbedaan-perbedaan yang penting dan berpengaruh dalam asersi, tersembunyi atau malah disembunyikan.

·         Argumen Sebab-Akibat menyatakan konklusi sebagai akibat dari asersi-asersi tertentu. Untuk menyatakan adanya hubungan maka diperlukan adanya pengujian. Dan dalam pengujian ini terdapat 3 kaidah yang dapat diujikan, yaitu kaidah kecocokan, kecocokan negatif, dan perbedaan. Adapun untuk mebuktikan adanya penyebaban faktor terhadap gejala, maka harus memenuhi 3 kriteria berikut: (1) Faktor dan gejala berubah bersama,  (2) Perubahan faktor terjadi sebelum gejala, (3) Tidak ada faktor lain yang mempenagruhi gejala

Pernah terkecoh sesuatu...?? nah, ternyata dalam penalaran terkadang juga bisa ditemui adanya kecohan lo.... Di beberapa situasi manusia lebih terkecoh oleh emosi atau kepentingan pribadi daripada oleh logika. Kecohan itu sendiri dapat dibedakan menjadi 2:

1.       Kecohan dengan taktik atau disebut sebagai stratagem. Stratagem ini, dapat mengandung kebohongan dan muslihat. Biasa dilakukan dengan mempengaruhi keyakinan orang lain menggunakan argumen yang masuk akal. Beberapa jenis stratagem:

·         Persuasi atau pembujukan tak langsung biasa dilakukan dalam periklanan.
·    Membidik orangnya. Hal ini biasa digunakan untuk menjatuhkan pernyataan seseorang dengan menghubungkan pernyataan dengan diri orang tersebut. Misal: ‘Dia tidak mungkin menjadi pemimpin andal karena dia bekas tahanan politik’
·    Menyampingkan masalah dengan mengajukan argumen yang tidak berkaitan dengan masalah pokok.
·         Misrepresentasi atau menyanggah dengan memutarbalikkan fakta.
·   Imbauan cacah yang biasa digunakan untuk mendukung seseuatu dengan menunjukkan bahwa banyak orang yang melakukan sesuatu tersebut. Misalkan saat iklan disebutkan ‘9 dari 10 orang artis menggunakan sabun X’.
·       Imbauan autoritas mirip dengan imbauan cacah. Akan tetapi bila pada imbauan cacah menggunakan popularitas, maka dalam imbauan autoritas menggunakan autoritas atau kesaksian ahli di bidangtersebut.
·         Imbauan tradisi.
·    Dilema semu yaitu cara seseorang mengaburkan suatu argumen dengan cara menyiapkan gagasannya dan satu alternatif lain. Lalu ia menjelek-jelekkan alternatif lain, sehingga orang lain tidak memiliki pilihan selain menerima gagasannya.
·         Imbauan emosi

2.       Kecohan dikarenakan salah nalar alias reasoning fallacy. Hal ini terjadi jika penyimpulan tidak didasari kaidah penalaran yang valid. Biasa terjadi karena kesalahan struktur dan proses penalaran yang lalu berimbas pada penyimpulan yang salah atau tidak valid. Biasanya hal ini berunsurkan ketidak sengajaan. Beberapa salah nalar yang sering dijumpai:

·         Menegaskan konsekuen
·         Menyangkal antesendan
·       Pentaksaan yang biasa terjadi karena adanya ungkapan dalam suatu premis yang berbeda maknanya dengan ungkapan yang sama akan tetapi dalam premis yang berbeda.
·     Perampatan lebih atau meletakkan karakteristik sebagian kecil anggota kepada seluruh anggota. Misalkan pernyataan semua orang desa A pencuri karena adanya dua orang didalamnya pencuri.
·      Parsialitas atau penarikan simpulan atau konklusi hanya berdasarkan sebagian kecil bukti yang kebetulan mendukung konklusi tersebut.
·     Pembuktian analogi. Catatan yang harus diingat bahwa analogi merupakan alat pembuktian kebolehjadian bukan pembuktian validitas.
·      Merancukan urutan kejadian dengan penyebaban. Seperti bila siang selalu diikuti dengan malam, maka buka berarti siang merupakan penyebab terjadinya malam.
·    Menarik simpulan pasangan terjadi bila konklusi tidak disajikan dengan adanya argumen yang valid, sehingga dianggap konklusi alias posisi pasanganlah yang benar.

Seperti yang kita tau...., manusia tidak selalu bersifat rasional sedangkan asersi tidak selalu diungkap kebenarannya dengan objektif dan tuntas. Bahkan terkadang aspek manusia itu sendirilah yang menjadi penghalang bagi penalaran dan perkembangan ilmu. Beberapa diantaranya:

1.       Penjelasan sederhana. Kadangkala manusia puas dengan penjelasan sederhana dan tidak lagi berusaha untuk menggali lebih dalam.
2.     Kepentingan mengalahkan nalar. Saat seseorang ingin mempertahankan suatu yang penting baginya, terkadang ia lalu berpihak pada satu posisi meski ia tahu bahwa posisi itu lemah.
3.       Sindroma tes klinis. Yaitu ketika seseorang berpandangan bahwa sebenarnya pendapatnya tidak lagi valid karena adanya gagasan baru seperti yang dibicarakan banyak orang. Akan tetapi ia tidak mau membaca sumber gagasan karena takut bila jangan-jangan gagasan yang telah ia sebarkan tidak valid.
4.    Mentalitas Joko Tingkir. Yaitu saat seseorang memihak argumen seniornya misalkan, hanya karena rasa hormatnya kepada seniornya tersebut. Hal ini berati ia mementingkan kekuasaan daripada penalaran
5.    Merasionalkan daripada menalar. Hal ini terjadi saat seseorang mencari-cari justifikasi alias alasan untuk membenarkan pendapatnya. Hal ini berdampak pada tujuan diskusi yang bukan lagi mencari kebenaran tetapi untuk membenarkan dirinya.
6.    Persistensi atau keteguhan dirinya akan pendapat yang dimiliki. Ini dapat menjadi penghalang karena terkadang ada argumen yang kuat akan tetapi sebenarnya salah.

Dan itu tadi sekilas tentang penalaran atau reasoning. Semoga bermanfaat bagi semua yah... Just for info, ringkasan materi diatas diambil dari buku Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan Edisi Ketiga karangan Suwardjono. So, untuk lebih lengkapnya bisa di baca langsung di bukunya yah! Then, see you next week!

Wassalamu’alaikum Wr. Wb