Ok.. 3,...2,...1, start...!!!
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Kalo sebelumya
penulis udah kasih sedikit tentang teori akuntansi. Nah! Untuk postingan kali
ini nih... penulis akan membahas –sedikit lebar- tentang Penalaran atau
Reasoning, yang ternyata sangat penting perannya dalam teori akuntansi. Why? Hal
ini disebabkan teori akuntansi yang banyak melibatkan penilaian kelayakan dan
validitas atas argumen-argumen yang ada. And then, penalaran inilah yang
nantinya memberi keyakinan apakah argumen itu ditolak atau diterima. Cus..
untuk mempersingkat tulisan, langsung saja dibahas ‘apa sebenarnya penalaran
itu?’
Nah! Penalaran
sendiri intinya adalah pemikiran logis dan sitematis yang nantinya akan
membentuk, mempertahankan, atau mengubah suatu keyakinan atas suatu pernyataan
atau teori. Dari pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa penalaran memiliki
3 unsur yang menstrukturinya, yaitu:
1. Asersi
Merupakan penegasan akan sesuatu dan pernyataan bahwa sesuatu itu adalah
benar. Dalam suatu argumen, asersi berfungsi sebagai konklusi (inti yang
diturunkan dari beberapa asersi) dan premis (pendukung konklusi). Umumnya
asersi disajikan dalam bentuk kalimat dan beberapa mengandung
pengkuatifikasian (keterangan kuantitas) seperti kata semua, beberapa, atau
tidak ada. Asersi dapat dinyatakan berdasar
makna atau berdasarkan struktur.
Contoh 1 (berdasar makna):
·
Manusia adalah makhluk
sosial
·
Tidak ada ikan hias yang
melahirkan
·
Perusahaan besar akan
memilih mode MTKP
Contoh 2 (berdasar struktur):
·
A adalah B
·
Tidak ada satupun A adalah
B
·
Beberapa A adalah B
Asersi yang
berdasarkan makna dinilai sering menimbulkan salah dalam pengartian karena
keterbatasan dalam bahasa maupun karena kesalahan bahasa. Sedangkan apabila
asersi dinyatakan berdasarkan struktur, maka asersi akan lebih dinilai
dikarenakan strukturnya daripada kebenaran isinya. Sehingga akan dihasilkan
asersi yang valid struktural tapi tidak memiliki kandungan empiris.
Asersi ini ternyata juga bisa
disajikan dalam bentuk diagram lo..... Hal ini bertujuan untuk
memperjelas hubungan antara satu objek dengan objek lainnya. Selain itu diagram
juga bertujuan untuk memperjelas asersi yang meragukan maksudnya. Karena
memahami arti asersi sangat penting untuk menentukan keyakinan akan kebenaran
asersi.
Lebih lanjut
lagi, penulis akan bahas tentang jenis-jenis asersi.... Untuk membentuk
keyakinan akan kebenarannya, asersi harus didukung dengan adanya bukti atau
fakta. Dan bila asersi dikaitkan dengan fakta, maka akan muncul berbagai jenis
asersi. Jenis pertama adalah asumsi, yang merupakan asersi yang
diyakini benar meski bukti kebenarannya tidak dapat ditunjukkan. Lalu yang
kedua ada hipotesis, yang buktinya tidak dapat dimunculkan akan
tetapi diyakini dapat diuji kebenarannya. Dan selanjutnya ada yang disebut
dengan pernyataan fakta, yang mana bukti kebenarannya sangat kuat
bahkan sampai tidak bisa dibantah.
1. Keyakinan
Yakin... pernah denger dong kata yakin?? Ok.. yakin disini adalah
kesediaan menerima bahwa suatu pernyataan/teori/asersi adalah benar. Dan
seperti yang udah dibahas tadi, asersi dapat diyakini atau dipercaya dengan adanya
bukti yang kuat. So.., keyakinan dapat dikatakan sebagai produk atau hasil dari
penalaran.
Keyakinan punya beberapa sifat (properitas) yang harus dipahami.
Beberapa sifat keyakinan diantaranya, ada sifat keadabenaran yang
bergantung pada isi, dasar pengetahuan, dan sumber asersi. Kedua ada, bukan
pendapat yang berarti bahwa keyakinan tidak bisa ditentukan benar
salahnya berdasarkan kesukaan atau selera. Next.., sifat bertingkat,
yang mana tingkat keyakinan ini ditentukan oleh kualitas dan kuantitas bukti
pendukung. Yang keempat ada berbias atau dipengaruhi keinginan
dan kepentingan pribadi yang menyampaikan. Trus ada lgi, sifat bermuatan
nilai, yang dipengaruhi penting tidaknya keyakinan ini perlu dipegang.
Selanjutnya lagi,.. keyakinan juga bersifat berkekuatan (memiliki
tingkat kepercayaan) dan veridikal (tingkat kesesuaian dengan
realitas). And the last is... adanya sifat berketertempaan yang
berhubungan dengan mudah tidaknya kepercayaan ini diubah menjadi bukti yang
relevan.
2. Argumen
Dalam artian positif, argumen bisa disamakan dengan penalaran
logis. Argumen biasanya diajukan oleh seseorang sebagai alasan untuk mendukung
gagasan atau pandangan. Argumen biasa terdiri dari beberapa asersi yang saling
berkaitan dan membentuk simpulan. Argumen terdiri dari premis dan konklusi
seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Apabila ditinjau dari bagaimana diterapkannya argumen untuk menurunkan
konklusi, maka dapat dikatakan bahwa argumen terbagi dalam berbagai jenis:
·
Argumen deduktif merupakan
penyimpulan yang berawal dari pernyataan umum sebagai premis dan menuju ke
pernyataan khusus sebagai simpulan atau konklusi. Disebut juga argumen logis,
karena konklusinya diturunkan dari premis lain yang diajukan. Untuk lebih
jelasnya, just try to look at this
example....:
Contoh diatas merupakan contoh argumen deduktif.
Sebagai catatan, premis major diartikan sebagai anteseden (yang
menunjukkan hubungan) dan premis minor disebut sebagai konsekuen. Dalam
suatu argumen, konklusi dikatakan benar bila menegaskan anteseden seperti yang
ada di contoh A. Sedangkan konklusi contoh B dikatakan tidak valid karena
menegaskan konsekuen bukan anteseden.
Dalam teori akuntansi premis major disebut sebagai postulat.
Dan argumen-argumen deduktif dalam akuntansi akan membentuk teori akuntansi.
Dan untuk menilai argumen terdapat 4 kriteria evaluasi yang termasuk di
dalamnya kelengkapan, kejelasan, keshahihan,
dan keterpercayaan.
·
Argumen Induktif
berawal dari pernyataan khusus dan berakhir pada pernyataan umum. Berbeda
dengan argumen deduktif yang merupakan argumen logis, argumen induktif ini
merupakan argumen kebolehjadian. Yang berarti tujuan dari argumen
induktif adalah meyakinkan bahwa kebolehjadian konklusi cukup tinggi. Dengan
ini juga dapat dinyatakan bahwa kebenaran premis tidak dapat menjamin
sepenuhnya kebenaran konklusi. Contoh dari argumen induktif:
Premis :
Sebuah jeruk dari karung A manis rasanya
Premis :
Sebuah jeruk berikutnya manis rasanya
Konklusi :
Semua jeruk di karung A manis rasanya
Dalam akuntansi, penalaran induktif digunakan
untuk menjelaskan gejala akuntansi tertentu dalam bentuk pernyataan umum.
Adapun dalam praktiknya penalaran induktif dan deduktif tidak dapat dilakukan
secara terpisah.
·
Argumen dengan Analogi
berarti menurunkan konklusi atas adanya kesamaan atau kemiripan karakteristik,
pola, fungsi, atau hubungan pada objek yang disebutkan suatu asersi. Argumen
macam ini disebut-sebut memiliki banyak kelemahan. Karena sering kali
perbedaan-perbedaan yang penting dan berpengaruh dalam asersi, tersembunyi atau
malah disembunyikan.
·
Argumen Sebab-Akibat
menyatakan konklusi sebagai akibat dari asersi-asersi tertentu. Untuk
menyatakan adanya hubungan maka diperlukan adanya pengujian. Dan dalam pengujian
ini terdapat 3 kaidah yang dapat diujikan, yaitu kaidah kecocokan,
kecocokan negatif, dan perbedaan. Adapun untuk mebuktikan
adanya penyebaban faktor terhadap gejala, maka harus memenuhi 3 kriteria
berikut: (1) Faktor dan gejala berubah bersama, (2) Perubahan faktor terjadi
sebelum gejala, (3) Tidak ada faktor lain yang mempenagruhi
gejala.
Pernah terkecoh sesuatu...?? nah, ternyata dalam penalaran terkadang juga bisa ditemui
adanya kecohan lo.... Di beberapa situasi manusia lebih terkecoh oleh emosi
atau kepentingan pribadi daripada oleh logika. Kecohan itu sendiri dapat
dibedakan menjadi 2:
1. Kecohan dengan taktik atau disebut sebagai stratagem.
Stratagem ini, dapat mengandung kebohongan dan muslihat. Biasa dilakukan dengan
mempengaruhi keyakinan orang lain menggunakan argumen yang masuk akal. Beberapa
jenis stratagem:
·
Persuasi atau
pembujukan tak langsung biasa dilakukan dalam periklanan.
· Membidik orangnya.
Hal ini biasa digunakan untuk menjatuhkan pernyataan seseorang dengan
menghubungkan pernyataan dengan diri orang tersebut. Misal: ‘Dia tidak mungkin
menjadi pemimpin andal karena dia bekas tahanan politik’
· Menyampingkan masalah
dengan mengajukan argumen yang tidak berkaitan dengan masalah pokok.
·
Misrepresentasi
atau menyanggah dengan memutarbalikkan fakta.
· Imbauan cacah
yang biasa digunakan untuk mendukung seseuatu dengan menunjukkan bahwa banyak
orang yang melakukan sesuatu tersebut. Misalkan saat iklan disebutkan ‘9 dari
10 orang artis menggunakan sabun X’.
·
Imbauan autoritas
mirip dengan imbauan cacah. Akan tetapi bila pada imbauan cacah menggunakan
popularitas, maka dalam imbauan autoritas menggunakan autoritas atau kesaksian
ahli di bidangtersebut.
·
Imbauan tradisi.
· Dilema semu
yaitu cara seseorang mengaburkan suatu argumen dengan cara menyiapkan
gagasannya dan satu alternatif lain. Lalu ia menjelek-jelekkan alternatif lain,
sehingga orang lain tidak memiliki pilihan selain menerima gagasannya.
·
Imbauan emosi
2. Kecohan dikarenakan salah nalar alias reasoning fallacy. Hal
ini terjadi jika penyimpulan tidak didasari kaidah penalaran yang valid. Biasa
terjadi karena kesalahan struktur dan proses penalaran yang lalu
berimbas pada penyimpulan yang salah atau tidak valid. Biasanya hal ini berunsurkan
ketidak sengajaan. Beberapa salah nalar yang sering dijumpai:
·
Menegaskan konsekuen
·
Menyangkal antesendan
· Pentaksaan
yang biasa terjadi karena adanya ungkapan dalam suatu premis yang berbeda
maknanya dengan ungkapan yang sama akan tetapi dalam premis yang berbeda.
· Perampatan lebih
atau meletakkan karakteristik sebagian kecil anggota kepada seluruh anggota.
Misalkan pernyataan semua orang desa A pencuri karena adanya dua orang
didalamnya pencuri.
· Parsialitas atau
penarikan simpulan atau konklusi hanya berdasarkan sebagian kecil bukti yang
kebetulan mendukung konklusi tersebut.
· Pembuktian analogi.
Catatan yang harus diingat bahwa analogi merupakan alat pembuktian
kebolehjadian bukan pembuktian validitas.
· Merancukan urutan
kejadian dengan penyebaban. Seperti bila siang selalu diikuti dengan
malam, maka buka berarti siang merupakan penyebab terjadinya malam.
· Menarik simpulan
pasangan terjadi bila konklusi tidak disajikan dengan adanya argumen
yang valid, sehingga dianggap konklusi alias posisi pasanganlah yang benar.
Seperti yang
kita tau...., manusia tidak selalu bersifat rasional sedangkan asersi tidak
selalu diungkap kebenarannya dengan objektif dan tuntas. Bahkan terkadang aspek
manusia itu sendirilah yang menjadi penghalang bagi penalaran dan perkembangan
ilmu. Beberapa diantaranya:
1. Penjelasan sederhana. Kadangkala manusia puas
dengan penjelasan sederhana dan tidak lagi berusaha untuk menggali lebih dalam.
2. Kepentingan mengalahkan nalar. Saat seseorang
ingin mempertahankan suatu yang penting baginya, terkadang ia lalu berpihak
pada satu posisi meski ia tahu bahwa posisi itu lemah.
3. Sindroma tes klinis. Yaitu ketika seseorang
berpandangan bahwa sebenarnya pendapatnya tidak lagi valid karena adanya
gagasan baru seperti yang dibicarakan banyak orang. Akan tetapi ia tidak mau
membaca sumber gagasan karena takut bila jangan-jangan gagasan yang telah ia
sebarkan tidak valid.
4. Mentalitas Joko Tingkir. Yaitu saat seseorang memihak
argumen seniornya misalkan, hanya karena rasa hormatnya kepada seniornya
tersebut. Hal ini berati ia mementingkan kekuasaan daripada penalaran
5. Merasionalkan daripada menalar. Hal ini terjadi
saat seseorang mencari-cari justifikasi alias alasan untuk membenarkan
pendapatnya. Hal ini berdampak pada tujuan diskusi yang bukan lagi mencari
kebenaran tetapi untuk membenarkan dirinya.
6. Persistensi atau keteguhan dirinya akan pendapat
yang dimiliki. Ini dapat menjadi penghalang karena terkadang ada argumen yang
kuat akan tetapi sebenarnya salah.
Dan itu tadi
sekilas tentang penalaran atau reasoning. Semoga bermanfaat bagi semua yah... Just
for info, ringkasan materi diatas diambil dari buku Teori Akuntansi
Perekayasaan Pelaporan Keuangan Edisi Ketiga karangan Suwardjono. So, untuk
lebih lengkapnya bisa di baca langsung di bukunya yah! Then, see you next week!
Wassalamu’alaikum Wr. Wb


Tidak ada komentar:
Posting Komentar