Sabtu, 18 Maret 2017

Penalaran / Reasoning....


Ok.. 3,...2,...1,  start...!!!

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Kalo sebelumya penulis udah kasih sedikit tentang teori akuntansi. Nah! Untuk postingan kali ini nih... penulis akan membahas –sedikit lebar- tentang Penalaran atau Reasoning, yang ternyata sangat penting perannya dalam teori akuntansi. Why? Hal ini disebabkan teori akuntansi yang banyak melibatkan penilaian kelayakan dan validitas atas argumen-argumen yang ada. And then, penalaran inilah yang nantinya memberi keyakinan apakah argumen itu ditolak atau diterima. Cus.. untuk mempersingkat tulisan, langsung saja dibahas ‘apa sebenarnya penalaran itu?’

Nah! Penalaran sendiri intinya adalah pemikiran logis dan sitematis yang nantinya akan membentuk, mempertahankan, atau mengubah suatu keyakinan atas suatu pernyataan atau teori. Dari pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa penalaran memiliki 3 unsur yang menstrukturinya, yaitu:

1.       Asersi   
Merupakan penegasan akan sesuatu dan pernyataan bahwa sesuatu itu adalah benar. Dalam suatu argumen, asersi berfungsi sebagai konklusi (inti yang diturunkan dari beberapa asersi) dan premis (pendukung konklusi). Umumnya asersi disajikan dalam bentuk kalimat dan beberapa mengandung pengkuatifikasian (keterangan kuantitas) seperti kata semua, beberapa, atau tidak ada.  Asersi dapat dinyatakan berdasar makna atau berdasarkan struktur.


Contoh 1 (berdasar makna):
·         Manusia adalah makhluk sosial
·         Tidak ada ikan hias yang melahirkan
·         Perusahaan besar akan memilih mode MTKP
Contoh 2 (berdasar struktur):
·         A adalah B
·         Tidak ada satupun A adalah B
·         Beberapa A adalah B


Asersi yang berdasarkan makna dinilai sering menimbulkan salah dalam pengartian karena keterbatasan dalam bahasa maupun karena kesalahan bahasa. Sedangkan apabila asersi dinyatakan berdasarkan struktur, maka asersi akan lebih dinilai dikarenakan strukturnya daripada kebenaran isinya. Sehingga akan dihasilkan asersi yang valid struktural tapi tidak memiliki kandungan empiris.

Asersi ini ternyata juga bisa disajikan dalam bentuk diagram lo..... Hal ini bertujuan untuk memperjelas hubungan antara satu objek dengan objek lainnya. Selain itu diagram juga bertujuan untuk memperjelas asersi yang meragukan maksudnya. Karena memahami arti asersi sangat penting untuk menentukan keyakinan akan kebenaran asersi.


Lebih lanjut lagi, penulis akan bahas tentang jenis-jenis asersi.... Untuk membentuk keyakinan akan kebenarannya, asersi harus didukung dengan adanya bukti atau fakta. Dan bila asersi dikaitkan dengan fakta, maka akan muncul berbagai jenis asersi. Jenis pertama adalah asumsi, yang merupakan asersi yang diyakini benar meski bukti kebenarannya tidak dapat ditunjukkan. Lalu yang kedua ada hipotesis, yang buktinya tidak dapat dimunculkan akan tetapi diyakini dapat diuji kebenarannya. Dan selanjutnya ada yang disebut dengan pernyataan fakta, yang mana bukti kebenarannya sangat kuat bahkan sampai tidak bisa dibantah.

1.       Keyakinan
Yakin... pernah denger dong kata yakin?? Ok.. yakin disini adalah kesediaan menerima bahwa suatu pernyataan/teori/asersi adalah benar. Dan seperti yang udah dibahas tadi, asersi dapat diyakini atau dipercaya dengan adanya bukti yang kuat. So.., keyakinan dapat dikatakan sebagai produk atau hasil dari penalaran.
Keyakinan punya beberapa sifat (properitas) yang harus dipahami. Beberapa sifat keyakinan diantaranya, ada sifat keadabenaran yang bergantung pada isi, dasar pengetahuan, dan sumber asersi. Kedua ada, bukan pendapat yang berarti bahwa keyakinan tidak bisa ditentukan benar salahnya berdasarkan kesukaan atau selera. Next.., sifat bertingkat, yang mana tingkat keyakinan ini ditentukan oleh kualitas dan kuantitas bukti pendukung. Yang keempat ada berbias atau dipengaruhi keinginan dan kepentingan pribadi yang menyampaikan. Trus ada lgi, sifat bermuatan nilai, yang dipengaruhi penting tidaknya keyakinan ini perlu dipegang. Selanjutnya lagi,.. keyakinan juga bersifat berkekuatan (memiliki tingkat kepercayaan) dan veridikal (tingkat kesesuaian dengan realitas). And the last is... adanya sifat berketertempaan yang berhubungan dengan mudah tidaknya kepercayaan ini diubah menjadi bukti yang relevan.

2.       Argumen
Dalam artian positif, argumen bisa disamakan dengan penalaran logis. Argumen biasanya diajukan oleh seseorang sebagai alasan untuk mendukung gagasan atau pandangan. Argumen biasa terdiri dari beberapa asersi yang saling berkaitan dan membentuk simpulan. Argumen terdiri dari premis dan konklusi seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Apabila ditinjau dari bagaimana diterapkannya argumen untuk menurunkan konklusi, maka dapat dikatakan bahwa argumen terbagi dalam berbagai jenis:
·         Argumen deduktif merupakan penyimpulan yang berawal dari pernyataan umum sebagai premis dan menuju ke pernyataan khusus sebagai simpulan atau konklusi. Disebut juga argumen logis, karena konklusinya diturunkan dari premis lain yang diajukan. Untuk lebih jelasnya,  just try to look at this example....:
 




Contoh diatas merupakan contoh argumen deduktif. Sebagai catatan, premis major diartikan sebagai anteseden (yang menunjukkan hubungan) dan premis minor disebut sebagai konsekuen. Dalam suatu argumen, konklusi dikatakan benar bila menegaskan anteseden seperti yang ada di contoh A. Sedangkan konklusi contoh B dikatakan tidak valid karena menegaskan konsekuen bukan anteseden.

Dalam teori akuntansi premis major disebut sebagai postulat. Dan argumen-argumen deduktif dalam akuntansi akan membentuk teori akuntansi. Dan untuk menilai argumen terdapat 4 kriteria evaluasi yang termasuk di dalamnya kelengkapan, kejelasan, keshahihan, dan keterpercayaan.

·         Argumen Induktif berawal dari pernyataan khusus dan berakhir pada pernyataan umum. Berbeda dengan argumen deduktif yang merupakan argumen logis, argumen induktif ini merupakan argumen kebolehjadian. Yang berarti tujuan dari argumen induktif adalah meyakinkan bahwa kebolehjadian konklusi cukup tinggi. Dengan ini juga dapat dinyatakan bahwa kebenaran premis tidak dapat menjamin sepenuhnya kebenaran konklusi. Contoh dari argumen induktif:

Premis                  : Sebuah jeruk dari karung A manis rasanya
Premis                  : Sebuah jeruk berikutnya manis rasanya
Konklusi               : Semua jeruk di karung A manis rasanya

Dalam akuntansi, penalaran induktif digunakan untuk menjelaskan gejala akuntansi tertentu dalam bentuk pernyataan umum. Adapun dalam praktiknya penalaran induktif dan deduktif tidak dapat dilakukan secara terpisah.

·         Argumen dengan Analogi berarti menurunkan konklusi atas adanya kesamaan atau kemiripan karakteristik, pola, fungsi, atau hubungan pada objek yang disebutkan suatu asersi. Argumen macam ini disebut-sebut memiliki banyak kelemahan. Karena sering kali perbedaan-perbedaan yang penting dan berpengaruh dalam asersi, tersembunyi atau malah disembunyikan.

·         Argumen Sebab-Akibat menyatakan konklusi sebagai akibat dari asersi-asersi tertentu. Untuk menyatakan adanya hubungan maka diperlukan adanya pengujian. Dan dalam pengujian ini terdapat 3 kaidah yang dapat diujikan, yaitu kaidah kecocokan, kecocokan negatif, dan perbedaan. Adapun untuk mebuktikan adanya penyebaban faktor terhadap gejala, maka harus memenuhi 3 kriteria berikut: (1) Faktor dan gejala berubah bersama,  (2) Perubahan faktor terjadi sebelum gejala, (3) Tidak ada faktor lain yang mempenagruhi gejala

Pernah terkecoh sesuatu...?? nah, ternyata dalam penalaran terkadang juga bisa ditemui adanya kecohan lo.... Di beberapa situasi manusia lebih terkecoh oleh emosi atau kepentingan pribadi daripada oleh logika. Kecohan itu sendiri dapat dibedakan menjadi 2:

1.       Kecohan dengan taktik atau disebut sebagai stratagem. Stratagem ini, dapat mengandung kebohongan dan muslihat. Biasa dilakukan dengan mempengaruhi keyakinan orang lain menggunakan argumen yang masuk akal. Beberapa jenis stratagem:

·         Persuasi atau pembujukan tak langsung biasa dilakukan dalam periklanan.
·    Membidik orangnya. Hal ini biasa digunakan untuk menjatuhkan pernyataan seseorang dengan menghubungkan pernyataan dengan diri orang tersebut. Misal: ‘Dia tidak mungkin menjadi pemimpin andal karena dia bekas tahanan politik’
·    Menyampingkan masalah dengan mengajukan argumen yang tidak berkaitan dengan masalah pokok.
·         Misrepresentasi atau menyanggah dengan memutarbalikkan fakta.
·   Imbauan cacah yang biasa digunakan untuk mendukung seseuatu dengan menunjukkan bahwa banyak orang yang melakukan sesuatu tersebut. Misalkan saat iklan disebutkan ‘9 dari 10 orang artis menggunakan sabun X’.
·       Imbauan autoritas mirip dengan imbauan cacah. Akan tetapi bila pada imbauan cacah menggunakan popularitas, maka dalam imbauan autoritas menggunakan autoritas atau kesaksian ahli di bidangtersebut.
·         Imbauan tradisi.
·    Dilema semu yaitu cara seseorang mengaburkan suatu argumen dengan cara menyiapkan gagasannya dan satu alternatif lain. Lalu ia menjelek-jelekkan alternatif lain, sehingga orang lain tidak memiliki pilihan selain menerima gagasannya.
·         Imbauan emosi

2.       Kecohan dikarenakan salah nalar alias reasoning fallacy. Hal ini terjadi jika penyimpulan tidak didasari kaidah penalaran yang valid. Biasa terjadi karena kesalahan struktur dan proses penalaran yang lalu berimbas pada penyimpulan yang salah atau tidak valid. Biasanya hal ini berunsurkan ketidak sengajaan. Beberapa salah nalar yang sering dijumpai:

·         Menegaskan konsekuen
·         Menyangkal antesendan
·       Pentaksaan yang biasa terjadi karena adanya ungkapan dalam suatu premis yang berbeda maknanya dengan ungkapan yang sama akan tetapi dalam premis yang berbeda.
·     Perampatan lebih atau meletakkan karakteristik sebagian kecil anggota kepada seluruh anggota. Misalkan pernyataan semua orang desa A pencuri karena adanya dua orang didalamnya pencuri.
·      Parsialitas atau penarikan simpulan atau konklusi hanya berdasarkan sebagian kecil bukti yang kebetulan mendukung konklusi tersebut.
·     Pembuktian analogi. Catatan yang harus diingat bahwa analogi merupakan alat pembuktian kebolehjadian bukan pembuktian validitas.
·      Merancukan urutan kejadian dengan penyebaban. Seperti bila siang selalu diikuti dengan malam, maka buka berarti siang merupakan penyebab terjadinya malam.
·    Menarik simpulan pasangan terjadi bila konklusi tidak disajikan dengan adanya argumen yang valid, sehingga dianggap konklusi alias posisi pasanganlah yang benar.

Seperti yang kita tau...., manusia tidak selalu bersifat rasional sedangkan asersi tidak selalu diungkap kebenarannya dengan objektif dan tuntas. Bahkan terkadang aspek manusia itu sendirilah yang menjadi penghalang bagi penalaran dan perkembangan ilmu. Beberapa diantaranya:

1.       Penjelasan sederhana. Kadangkala manusia puas dengan penjelasan sederhana dan tidak lagi berusaha untuk menggali lebih dalam.
2.     Kepentingan mengalahkan nalar. Saat seseorang ingin mempertahankan suatu yang penting baginya, terkadang ia lalu berpihak pada satu posisi meski ia tahu bahwa posisi itu lemah.
3.       Sindroma tes klinis. Yaitu ketika seseorang berpandangan bahwa sebenarnya pendapatnya tidak lagi valid karena adanya gagasan baru seperti yang dibicarakan banyak orang. Akan tetapi ia tidak mau membaca sumber gagasan karena takut bila jangan-jangan gagasan yang telah ia sebarkan tidak valid.
4.    Mentalitas Joko Tingkir. Yaitu saat seseorang memihak argumen seniornya misalkan, hanya karena rasa hormatnya kepada seniornya tersebut. Hal ini berati ia mementingkan kekuasaan daripada penalaran
5.    Merasionalkan daripada menalar. Hal ini terjadi saat seseorang mencari-cari justifikasi alias alasan untuk membenarkan pendapatnya. Hal ini berdampak pada tujuan diskusi yang bukan lagi mencari kebenaran tetapi untuk membenarkan dirinya.
6.    Persistensi atau keteguhan dirinya akan pendapat yang dimiliki. Ini dapat menjadi penghalang karena terkadang ada argumen yang kuat akan tetapi sebenarnya salah.

Dan itu tadi sekilas tentang penalaran atau reasoning. Semoga bermanfaat bagi semua yah... Just for info, ringkasan materi diatas diambil dari buku Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan Edisi Ketiga karangan Suwardjono. So, untuk lebih lengkapnya bisa di baca langsung di bukunya yah! Then, see you next week!

Wassalamu’alaikum Wr. Wb


Tidak ada komentar:

Posting Komentar